Keadilan Berbayar

Kopi beraroma kayumanis dan adas yang diwadahi cangkir polos putih berukuran besar mengepulkan uap panas. Harum menguar, menemaniku menelusuri buku bacaan yang kubawa untuk membunuh waktu, sementara menunggu kedatangan Adis dan Boni.

Kedai kopi di lantai dasar mal yang berlokasi di pusat kota bisnis ini cukup tenang, walaupun tiap set sofa yang disediakan telah penuh menampung pengunjung. Aku menghirup kopi yang mulai berkurang panasnya. Kuceburkan permen krim kacang ke dalam kopi dan mulai mengaduk-aduknya pelahan. Aku sengaja memilih posisi set sofa di sayap kanan kedai, tepat di bawah tangga menuju lantai dua. Ada empat buah sofa disitu, dua merah menyala dan dua hijau lemon.

3 hari lalu Adis menelefonku, “ Dengan Ibu Yvonne ? “.

Saya sendiri,” sahutku sembari tetap meneruskan mengetik terjemahan artikel yang tengah genting-gentingnya menuju tenggat waktu.

Saya dapat nomor Ibu dari Husen, Yayasan XYS. Saya butuh bantuan Ibu….”, suara Adis ujung telefon menerangkan situasi yang dihadapinya.

Adik laki-lakinya,Windu, tertangkap tangan menyimpan sebutir ekstasi dan 0.2 gram shabu*. Polisi menangkap Windu di rumah salah seorang kerabat mereka di kota kecil YYY. Kini Windu berada di ruang tahanan POLDA, menunggu kasusnya mulai disidik. Windu juga terbukti positif menggunakan shabu berdasarkan hasil tes urin.

Singkatnya Adis sebagai keluarga terdekat dan awam tentang liku-liku kasus napza, membutuhkan masukan praktis untuk menghadapi kasus adiknya.

“Keluarga mau menempuh jalur apa ? Jalur lurus atau jalur belakang ? “, tukasku singkat. “Saya hanya bisa memberi saran-saran untuk keluarga yang memutuskan menempuh jalur peradilan tanpa suap.”

Adis tercekat, “ Maksudnya jalur belakang, bu ? “ .

Keluarga mbak Adis akan ditekan oleh penyidik, agar memberikan sejumlah uang sebagai imbalan penerapan pasal-pasal rehabilitasi. Itulah yang terjadi selama ini “ , ungkapku.

Jadi kami sebaiknya bersikap apa, bu ? ,” Adis terdengar putus asa di ujung sana.

“Silahkan keluarga pertimbangkan. Menyuap dengan risiko ‘habis-habisan’ tanpa ada jaminan Windu mendapat vonis rehabilitasi, atau menempuh jalur lurus mengandalkan pasal-pasal rehabilitasi yang sudah menjadi hak Windu sebagai korban. Bila Windu terbukti adalah seorang pecandu napza, hakim dapat memutuskan untuk memberikan vonis rehabilitasi untuknya. Tetapi tentu saja, hal itu adalah kewenangan hakim. Dalam proses penyidikan dan persidangan, sebaiknya Windu didampingi pengacara dari lembaga bantuan hukum.

****************************************************************

Keesokan harinya, Adis kembali menghubungiku.

Ibu benar. Kakak saya menemui penyidik POLDA hari ini. Mereka minta sejumlah uang untuk menerapkan pasal 127 Narkotika (*pasal meringankan yang diperuntukkan khusus bagi pengguna napza). Ketika kami bilang hanya mampu menyediakan 5 juta rupiah, penyidik bilang; 10 juta saja masih kami tolak … ,tanpa menyebutkan nominal pasti, Bu… “, Adis menerangkan panjang lebar.

Aku menghela nafas, terdengar berat, “Sudah saya duga. Lalu apa keputusan keluarga ?”.

Kami memilih jalur lurus saja, bu. Kami akan meminta bantuan pengacara dari lembaga bantuan hukum untuk memperjuangkan rehabilitasi

Baik, saya akan mempertemukan mbak Adis dengan tim pengacara dari lembaga bantuan hukum yang saya kenal. Silahkan pembicaraan mengenai rincian kasus, mbak Adis jelaskan pada mereka,” aku menutup pembicaraan telefon.

*********************************************************************

Lamunanku terputus ketika seorang perempuan muda mendekati mejaku. “Ibu Yvonne?”, perempuan muda itu dengan ragu mengulurkan tangan kanannya.

Aku buru-buru berdiri dan menyambut uluran tangan perempuan itu, sambil mempersilahkannya duduk, “Iya, saya Yvonne. Adis?”, aku balik bertanya. Perempuan itu mengangguk cepat. Tak lama Boni, adiknya menyusul, bergabung dengan kami di meja.

Perbincangan kami hanya untuk memastikan bahwa keluarga besar Adis tetap ingin menempuh jalur hukum tanpa menyuap aparat. Adis dan Boni mengaku pasrah setelah kupaparkan hal-hal terburuk yang mungkin terjadi; hukuman kurungan yang bisa jadi cukup lama atau intimidasi psikis maupun fisik selama masa penahanan. Walau tak dapat dipungkiri mereka merasa cemas, tetapi juga lega, bahwa akhirnya mereka memutuskan untuk mencari bantuan hukum.

Suasana di antara kami mencair. Adis dan Boni sudah bisa tertawa dan sedikit relaks. Setidaknya ada sedikit harapan, masalah adik mereka bisa dikawal dengan baik. Lagi-lagi pertanyaan yang paling sering ditanyakan padaku terlontar,

Ibu kok mau ngurusin masalah narkoba seperti ini, Bu? Apa gak serem?”, Boni mengungkapkan rasa penasarannya.

“Ceritanya panjang, mas….Tapi anggap saja memang sudah komitmen saya membantu selagi saya mampu. Ini pun saya hanya mempertemukan pada pihak-pihak yang akan menangani langsung…. Semoga setidaknya kasus Windu bisa diproses dengan seadil-adilnya…”, aku tersenyum, merapikan isi tas, lalu berpamitan pada dua kakak beradik tadi.

Langkahku terasa ringan ketika menjejak selasar mal di luar kedai kopi. Melawan budaya korupsi dalam “perang narkoba” memang butuh usaha panjang. Yang penting sudah dimulai, dan terus dikerjakan.

April 2013

*Shabu: nama jalanan metamfetamin

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s